Senin, 12 Oktober 2009

Penelitian: Anak Populer Lebih Sehat Hingga Dewasa


Liputan6.com, London: Sebuah penelitian terbaru menunjukkan anak-anak yang populer di sekolahnya cenderung memiliki kesehatan yang baik hingga dewasa. Studi ini didasari oleh pengamatan selama 30 tahun dari lebih dari 14 ribu anak yang lahir di Swedia pada 1953.

Seperti diwartakan BBC, penelitian yang dilakukan staf Journal of Epidemiology and Community Health ini menemukan anak-anak yang kurang populer memiliki risiko terkena penyakit jantung iskemik sembilan kali lebih tinggi dibandingkan yang populer. Selain itu, mereka juga lebih berisiko terserang diabetes, masalah obat-obatan, alkohol dan kesehatan mental.

Tingkat popularitas, kekuasaan dan status yang dinikmati setiap anak dinilai saat mereka mencapai kelas enam sekolah dasar pada 1966. Caranya adalah dengan menanyakan siapa yang mereka pilih untuk bekerja sama di sekolah. Masing-masing anak dikelompokkan dalam lima status, tergantung berapa banyak nominasi yang mereka terima. Kemudian para peneliti mencocokkan data ini dengan informasi masuk rumah sakit antara 1973 hingga 2003.

Hasilnya, baik anak laki-laki maupun perempuan yang jauh dari status populer di sekolah, memiliki risiko masalah kesehatan serius tertinggi setelah dewasa. Misalnya, mereka memerlukan perawatan rumah sakit untuk masalah hormon, nutrisi, dan penyakit metabolisme empat kali lebih sering dibandingkan anak-anak yang paling populer. Selain itu, risiko masalah kesehatan mental mereka lebih dari dua kali lipat dibandingkan yang populer. Para peneliti mengatakan, penemuan itu tidak dapat dijelaskan dengan kelas sosial.

Menurut Kepala Centre for Health Equity Studies di Universitas Stockholm, Stockholm, Swedia, Ylva Almquist, anak-anak yang kurang populer diperkirakan kekurangan dukungan sosial serta haus informasi. Hal ini bisa mengakibatkan terbentuknya citra diri yang negatif. Akibatnya, harapan sang anak menjadi turun, ambisi terhambat, dan pilihan hidupnya buruk.

Contohnya, kata Almquist, anak-anak yang status sosialnya kurang bagus dapat membiasakan gaya hidup yang merusak kesehatan. Di antaranya menjadi peminum dan perokok berat. Perilaku ini diketahui sebagai faktor utama risiko terserang penyakit jantung.

Almquist juga mengatakan ada kemungkinan popularitas beberapa anak adalah hasil dari kesehatan yang buruk. Kendati demikian, efek yang ditemukan dalam penelitian ini terlalu luas untuk dijadikan satu-satunya faktor.

Menurut dia, penelitian ini menyarankan sekolah harus mengusahakan kesetaraan sosial di kelas serta peningkatan citra diri anak-anak. Pasalnya, menurut Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Inggris, Profesor Alan Maryon-Davis, anak-anak yang merasa kurang dihargai atau sering ditindas di sekolah cenderung tumbuh dengan percaya diri yang kurang.

"Kemudian mereka mencari kenyamanan dengan makan berlebihan, merokok, atau minum-minum; serta biasanya kemudian menemukan dirinya mengidap penyakit kronis," ujar Davis, "Sangat penting untuk melakukan apa pun yang kita bisa lakukan untuk membantu anak-anak dan kaum muda merasa dihargai."(YUS)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog