Minggu, 01 November 2009

SPORT: Duel Duo Williams di Final



DOHA - Duo Williams (Venus dan Serena Williams), akan bertemu di babak final WTA Championships musim ini. Tiket diraih setelah kedua petenis mengalahkan lawan-lawannya.

Venus memastikan satu tiket setelah menumbangkan Jelena Jankovic di partai semifinal WTA Championships 2009. Sedangkan Serena lolos setelah Caroline Wozniacki mundur karena mengalami cedera ketika kedudukan 6-4 0-1.

Serena kembali ke final turnamen ini untuk pertama kalinya sejak 2004. Pada dua tahun lalu di turnamen yang sama, petenis nomor satu dunia putri itu tersisih dari penyisihan grup.

Tapi, kali ini Serena memastikan diri lolos setelah tidak pernah kalah dalam tiga laga yang dimainkan. "Saya hanya datang ke sini untuk melakukan yang terbaik dan saya sudah melakukannya," jelas petenis asal Amerika Serikat itu.

Serena berpeluang mengulangi prestasi musim 2001, dimana dirinya pernah meraih gelar juara. Sementara lawannya adalah sang kakak Venus, yang mencoba mempertahankan gelar.

"Ini sangat luar biasa, saya sungguh senang," ungkap Venus dikutip yahoosports, Minggu (1/11/2009). "Ini adalah langkah yang ingin saya akhiri turnamen tahun ini."  (hmr) 

Hendra Mujiraharja - Okezone

POLITIK: Program 100 Hari Diminta Menyesuaikan APBN



SUKABUMI - Program seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II diminta menyesuaikan dengan kapasitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2009. DPR mengingatkan pemerintah agar program-program tersebut tidak membuat beban anggaran membengkak.

Ketua Badan Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan, program seratus hari pasti memakai dana APBNP 2009 dan APBN 2010. "Kalau terjadi perubahan dalam APBNP 2009, Presiden tidak bisa mengajukan perubahan kecuali program seratus hari termasuk kategori program darurat," terangnya dalam diskusi soal pengelolaan APBN 2009 dan tantangannya di 2010 di Sukabumi, Sabtu (31/10/2009).

Dia menuturkan, mulai 1 Januari 2010 pemerintah harus sudah memakai APBN 2010. Harry mengaku tidak mengetahui posisi program seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II dalam APBN 2010.

Jika pengajuannya nanti berbeda dengan program yang sudah ada dalam APBN 2010 pemerintah harus mengajukan perubahan. Tetapi, menurutnya, hal ini sulit terealisasi karena pengajuan tersebut memerlukan persetujuan DPR. "Saya tidak tahu bagaimana pemerintah mengakalinya," imbuh dia.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa juga mengakui, akan repot jika program seratus hari berimplikasi terhadap anggaran sebab harus diproses lagi untuk memperoleh persetujuan DPR. "Jadi sebaiknya program-program yang memang tidak memerlukan perubahan anggaran atau menambah anggaran baru," kata dia.

Selain anggaran, pemerintah juga mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian ketika menyeleksi program-program seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Dalam hal ini, Hatta menjelaskan, program tersebut harus berdampak besar terhadap percepatan pembangunan perekonomian.

Terutama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas yang ditandai dengan peningkatan lapangan kerja, penurunan angka kemiskinan, dan pembangunan infrastruktur. "Pokoknya yang bisa mempercepat program dalam enam bidang komisi National Summit, yaitu infrastruktur, pangan, energi, industri dan jasa, UMKM, dan transportasi," papar dia.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akan menyampaikan program-program seratus hari Kabinet Indonesia Bersatu jilid II dalam waktu dekat. Setelah diketok Presiden, Hatta menuturkan, program tersebut akan diumumkan kepada publik supaya bisa termonitor. (Meutia Rahmi /Koran SI/ade) 

BOLA: Kekalahan Juventus Sebuah Tamparan Muka



VIVAnews - Juventus secara mengejutkan dipermalukan Napoli di Stadion Olimpico. Sempat memimpin 2-0 di babak pertama, Si Nyonya Tua akhirnya terjungkal 2-3.

Gol dari David Trezeguet dan Sebastian Giovinco di babak pertama seakan tak berarti setelah Napoli membalikkan keadaan di babak kedua. Juventus akhirnya kalah setelah Napoli mencetak tiga gol lewat dua gol Marek Hamsik dan satu gol Jesus Datolo.

"Sangat sulit menganalisa pertandingan ini setelah kami unggul 2-0. Saya tidak bisa jelaskan apa yang terjadi. Hasil ini sangat tidak menggembirakan kami di kamar ganti tapi saya tidak bisa mengatakan tentang itu," ujar Ferrara kepada Sky Sport Italia.

"Kami akan mengambil ini sebagai sebuah tamparan di muka. Ini sangat menyakiti kami. Kami sangat ingin memenangkan pertandingan ini. Kami sungguh ingin tapi kami kalah karena kesalahan kami," tambahnya.

Dengan hasil ini, Inter Milan berpeluang memperlebar jarak dari Juventus. Inter yang masih menyisakan satu pertandingan saat ini unggul empat poin dari Juventus yang mengoleksi 21 poin.

KORUPSI: "Kriminalisasi Bibit-Chandra Tak Mengada-Ada"




VIVAnews - Tokoh nasional Din Syamsuddin prihatin dengan penahanan dua pimpinan KPK nonaktif, Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Ia mengaku mendukung penegakan hukum, namun tetap harus didasarkan pada prinsip keadilan dan tidak boleh ada permainan.

"Isu adanya kriminalisasi penahanan dua pimpinan KPK nonaktif ini bukan mengada-ada. Ada gejala-gejala yang mudah dipahami oleh akal sehat," kata Ketua Umum PP Muhammadiyah itu kepada VIVAnews, Minggu 1 November 2009.

Prolog dari penahanan itu, kata Din, telah menimbulkan pro kontra. Setidaknya ia melihat ada empat hal yang meyakinkan dirinya tentang adanya kriminalisasi bukan hal yang mengada-ada. 

Pertama, tuduhan yang dikenakan kepada keduanya tidak jelas dan selalu berubah-ubah. Kedua, proses pemeriksaan tidak bisa dilepaskan dengan adanya fakta keterlibatan petinggi Polri dalam kasus Bank Century.

Ketiga, pemeriksaan tidak bisa dilepaskan dengan kasus Bank Century yang konon melibatkan pejabat tinggi negara. Keempat, penahanan itu terkait dengan pengungkapan transkrip rekaman yang membawa-bawa nama presiden. 

"Paling tidak dari empat hal ini menyimpulkan adanya kriminalisasi. Walaupun dibantah, tapi mudah dipahami dan penahanan keduanya hanya bisa ditangkap oleh hati nurani dan rasa keadilan," tegas dia,

Karenanya, tegas dia, demi keadilan hukum keduanya harus dilepaskan dan paling tidak ditangguhkan penahanannya. Selain itu juga harus ada penjelasan sejelas-jelasnya tentang beberapa hal yang menimbulkan kerancuan yang kelihatannya dibiarkan berkembang, sehingga kasus ini semakin rumit. 

Misalnya, apa kesalahan keduanya sejak awal. Dan fakta awal dari pemeriksaan itu harus dapat dipertanggungjawabkan sejak pertama kali kasus bergulir.

"Keterlibatan pejabat tinggi Polri dan negara dalam kasus Century juga harus dijelaskan sejelas-jelasnya. karena saya kira kunci dari kasus ini adalah klarifikasi kasus Century," ujar Din. Klarifikasi kasus Century dimintanya jangan ditunda-tunda lagi sehingga penegakan hukum tidak hanya sekadar basa-basi belaka.

Menuurtnya, perlu sikap negarawan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pemimpin-pemimpin negara lainnya untuk mengatasi masalah ini sehingga tidak berkembang dan mengusik rasa keadilan masyarakat yang akan membawa masalah pada pemerintahan SBY di kemudian hari.


Seperti diketahui, Bibit dan Chandra M Hamzah telah menjadi tersangka dan ditahan dalam kasus dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam mencekal Anggoro Widjojo, bos PT Radiokom yang menjadi tersangka kasus koruspi. Pencekalan, kata polisi, harus diputuskan secara kolektif karena kepemimpinan KPK adalah kepemimpinan kolektif.

Hal itu dibantah tegas oleh KPK. Pencekalan adalah urusan teknis yang tidak harus diputuskan secara kolektif. Semenjak KPK berdiri, keputusan menyangkut pencekalan itu bisa diputuskan oleh salah seorang ketua dan tidak harus kolektif.

Itu sebabnya, mantan salah satu petinggi KPK, Ery Riyana Hardjapamekas, protes keras dengan penahanan Bibit dan Chandra. Ery bahkan sudah mengirim surat kepada petinggi Polri dan sudah pula datang langsung ke sana dan meminta dirinya ditahan.

"Kalau alasannya karena penyalahgunaan wewenang, maka saya mita saya juga ditahan," kata Ery. Sebab lanjutnya, semasa dirinya menjadi pimpinan KPK, begitu banyak keputusan pencekalan yang diputuskan secara tidak kolektif.

Polisi juga menuduh Bibit dan Chandra telah menerima uang dari Anggodo Widjojo, yang diberikan lewat Ary Muladi.

Namun Ary Muladi belakangan mengaku dia tidak pernah menyerahkan uang ke pimpinan KPK itu. Pusat Penelitian Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) juga sudah menelusuri aliran dana kasus ini. Dan lembaga itu memastikan tidak ada aliran dana yang mengalir ke Bibit dan Chandra.
Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share