Rabu, 30 September 2009

(Pidato Presiden Yudhoyono di Harvard) SBY Ditanyai Soal Balibo Hingga Peran Militer


SBY ditanya soal pembunuhan wartawan di Timor Timur oleh militer Indonesia.

Sesudah menyampaikan pidato selama 30 menit, Presiden SBY menjawab sejumlah pertanyaan dari mahasiswa Harvard Kennedy School of Government. Menurut Profesor David Ellwood, Dekan JFK School of Government, memang demikian aturan mainnya.

Setiap figur yang bicara di forum Harvard harus bersedia menjawab pertanyaan secara bebas, dan sebaliknya selama pembicara menyampaikan pikirannya tidak boleh ada interupsi agar pokok pikiran dapat disampaikan secara jelas dan lengkap.

Rupa-rupa pertanyaan harus dijawab SBY.  Minat bertanya lumayan banyak, terlihat dari mahasiswa yang antri di depan mikrofon. Karena keterbatasan waktu, hanya tujuh yang sempat bertanya kepada SBY.
Pertanyaan soal pembunuhan wartawan di Timor Timur oleh militer Indonesia, yang dikenal sebagai tragedi Balibo, tudingan bahwa yang bisa jadi presiden di Indonesia harus berlatar-belakang militer, visi SBY soal ASEAN, nuklir Iran dan demokrasi di Burma, hingga mahasiswa yang bertanya resep sukses Indonesia memerangi terorisme.

Mahasiswa asal Indonesia, Widar, sempat bertanya kepada SBY soal kesetaraan beragama dan kesempatan berorganisasi di Indonesia. Widar yang tamatan ITB itu curhat, dirinya pernah gagal jadi ketua organisasi mahasiswa gara-gara bukan beragama Islam.

Dan hal seperti ini bukan hanya dia alami, tetap terjadi dalam berbagai bentuk di masyarakat Indonesia. Menjawab Widar, SBY mengatakan bagaimana pun proses demokrasi dalam berbagai pemilihan, termasuk di kampus, telah dilaksanakan. Dia berharap ke depan masyarakat Indonesia makin dewasa untuk menerima perbedaan, termasuk perbedaan agama.

Jawaban SBY atas pertanyaan dari mahasiswa Indonesia ini dinilai sebagai jawaban yang paling kurang memuaskan oleh sejumlah mahasiswa yang ditanyai oleh Uni Z. Lubis dari antv, usai acara di Forum Harvard. 

Dari enam mahasiswa yang berasal dari berbagai negara yang sempat ditanyai, semua mengatakan pidato Presiden sangat bagus dan menawarkan perspektif yang segar mengenai sikap Indonesia terhadap beragam isu global terutama isu Barat versus Islam.

"Pidato Presiden Anda bagus, tapi kami mendengar beliau agak jarang mau menerima pertanyaan secara bebas seperti ini," kata mahasiswa dari Malaysia.  Barangkali ada baiknya Presiden SBY lebih sering bersedia di-doorstop agar siap dengan pertanyaan kejutan.

Pidato SBY di Harvard disambut beberapa kali tepukan panjang, dan diakhiri dengan standing ovation oleh 800-an civitas akademika di Harvard.

Hadir pula Ibu Negara Hajah Ani Yudhoyono dan putra SBY, Agus Harimurti yang tengah menuntut ilmu di Harvard Kennedy School of Govenrment. Usai pidato di Harvard, SBY dan rombongan menuju bandara Logan, Boston untuk bertolak ke tanah air setelah melakukan kunjungan selama sepekan di AS.
• VIVAnews

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog