Sabtu, 26 September 2009

Era Baru Kepemilikan Asing di Italia


Inggris, sudah nyaris separuh klub Liga Utama dimiliki oleh pengusaha asing. Di Italia, baru Bari yang melakukannya. Inilah awal dari era masuknya stranieri ke dalam calcio.

Stadion-stadion tua yang melompong ditinggalkan tifosi, bintang-bintang yang jumlahnya menyusut, kerusuhan suporter, dan tak ketinggalan beberapa skandal. Barangkali itulah gambaran sepakbola Italia dalam beberapa tahun belakangan ini.

Alih-alih memandang semua itu sebagai hambatan, Timothy Burton malah melihatnya sebagai peluang. Ya, pengusaha properti asal Amerika Serikat itu sebentar lagi akan jadi pemilik Bari setelah proposalnya untuk membeli klub Italia selatan itu dengan harga 25 juta euro hampir difinalisasi.

"Ini sangat menyenangkan dan kami berharap ini adalah permulaan dari banyak perubahan di Seri A," cetus Burton dalam sebuah wawancara dengan Reuters.

"Ini adalah kesempatan yang kami nilai menarik dan entah bagaimana kami tahu kami dapat menerapkan kemampuan dan jaringan kami dan membuat sebuah perubahan."

Tahun 1990-an adalah masa-masa puncak kejayaan sepakbola Italia. Bintang-bintang dunia berbondong-bondong bermain di sana; klub-klubnya pun menguasai pelataran kompetisi Eropa.

Tapi itu dulu. Dalam satu dekade terakhir, pendulum itu bergerak menjauh. Klub-klub Inggris dan Spanyol yang agresif dan inovatif berhasil mengangkat kasta liga negaranya melewati Italia dalam segi prestise; dan tak terkecuali prestasi.

Bagi Burton, ketertinggalan Italia adalah berkah tersembunyi. Artinya, ada ruang yang lebih lebar bagi calcio untuk tumbuh. Sebuah hal yang bukan tidak mungkin bila mengingat gairah masyarakat negeri Pizza pada sepakbola yang sebenarnya tetap tinggi.

"Menggabungkan kemampuan bisnis ala Amerika dengan gairah ala Italia adalah sebuah hal yang besar dan saya pikir itu sebuah 'perkawinan' yang bagus," kata Burton bersemangat.

Italia memang sempat bagai menutup diri dari modernisasi. Persoalan menjadi seperti lingkaran setan. Buruknya iklim sepakbola dan infrastruktur membuat investor enggan masuk; dan di sisi sebaliknya, iklim dan infrastruktur calcio takkan membaik tanpa masuknya aliran modal segar.

Belum terlambat untuk menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh melenceng. Sepakbola Italia akhirnya mau berubah. Yang paling signifikan dari langkah itu adalah memisahkan Seri A dari divisi-divisi di bawahnya dengan membentuk badan pengelola baru ala Premier League mulai tahun depan.

Praktik-praktik sembrono dalam bentuk mismanagement yang pernah membuat klub-klub bertradisi kuat seperti Napoli dan Fiorentina kolaps, berupaya diminimalisir. Tak terkecuali adalah tindakan-tindakan curang yang menjadi bom waktu dan akhirnya meletus dalam bentuk calciopoli tahun 2006 silam.

Untuk kali pertama juga, liga akan dimanajeri oleh sosok ahli dari luar dunia sepakbola. Ia adalah Maurizio Beretta, mantan Direktur Jendral asosiasi perusahaan Italia.

Dengan semua perubahan itu, Burton mungkin tidak akan lama menjadi satu-satunya stranieri (orang asing) yang menguasai sebuah klub sepakbola di negeri semenanjung itu. Bila rencana perubahan itu mulus, akan ada beberapa investor baru yang akan turut terlibat dalam dua atau tiga tahun ke depan.

"Semoga, sepakbola dan Seri A berada dalam posisi untuk melangkah maju dan kami ingin menjadi bagian dari padanya. Seluruh pemilik dan klub sangat menantikannya dan ingin melihat bagaimana semuanya berevolusi menuju hal yang terbaik bagi semua," kata Burton.

Burton sudah menjadi pionir, meski tentu saja tidak ingin jadi martir. Dengan semua rancangan yang telah dibuat, patut ditunggu bagaimana kondisi sepakbola Italia ke depannya.


( arp / arp ) Arya Perdhana - detiksport

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog