Sabtu, 26 September 2009

Keperawanan, Masihkah Jadi Harga Mutlak?





Dewasa ini kita hidup dalam zaman serba permisif. Meski keperawanan tak lagi jadi harga mutlak yang dituntut oleh lelaki, namun tetap saja seorang lelaki pasti mendambakan calon istrinya masih perawan. Sayangnya kini semakin jarang ditemui seorang perempuan yang benar-benar mampu mempertahankan "harta" miliknya yang paling berharga untuk dipersembahkan setelah menikah dengan sang suami.
Meski tak lagi jadi tuntutan mutlak, namun masih banyak kalangan di masyarakat yang meyakini jika hilangnya keperawanan sebelum pernikahan merupakan hal yang memalukan.
Selaput dara yang tampak secara fisik, sering dipakai sebagai bukti keperawanan. Karena itu berkembang persepsi tentang seksualitas yang menyatakan bahwa terkoyaknya selaput dara dengan keluarnya darah ini diyakini hanya terjadi saat seorang wanita baru pertama kali berhubungan intim.
Nyatanya, menurut para pakar sex dan keluarga, tidak ada yang disebut "darah perawan” itu. Selanjutnya disebutkan bahwa wanita yang secara seksual tidak terangsang atau mengalami hambatan psikogenik (psikis dan genetika), bisa jadi mengalami perdarahan saat melakukan hubungan. Sebaliknya, wanita yang terangsang secara seksual dan tak mengalami hambatan psikogenik tidak akan mengalami perdarahan saat berhubungan seksual, sekalipun ini merupakan pengalaman seksualnya yang pertama. Dengan demikian, jelas sudah dan tidak diragukan bahwa persoalan ‘darah perawan’ hanyalah mitos belaka.
Sayangnya, mitos “darah perawan” ini kerap kali memunculkan masalah yang justru merugikan wanita. Sang suami bisa jadi dengan mudah menceraikan si istri gara-gara tidak melihat "darah perawan” saat mereka berhubungan seksual. Di negara seperti Turki, uji keperawanan atas permintaan klien yang dilakukan para dokter yang tergabung dalam Turkish Medical Association menemukan bahwa uji ini tidak menghasilkan apa-apa. Terkoyaknya selaput dara tidak berarti bahwa Si Perempuan tersebut sudah melakukan hubungan seksual. Bisa jadi ini terjadi akibat penggunaan tampon atau masturbasi menggunakan alat dan sempat menyentuh atau merusak vagina. Di sisi lain ada juga wanita yang secara kongenital atau sejak lahir tidak memiliki selaput dara. Angkanya sekitar 0,03 persen. Bagaimana menurut Anda?Astaga!HidupGaya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog