Minggu, 27 September 2009

Ranih Menarik Sendiri Mayat Anaknya


Mentari sore mulai turun, merebak di perkampungan Betawi. Sinar jingganya mengenai tubuh Ranih (43) di beranda rumahnya yang sederhana. Dengan mata menerawang ia menyusui Romadhon (2), anak kelimanya, bungsu.
Masih ingat sekali di benaknya bagaimana ia menyeret Jayadi, anak keduanya, keluar dari bus wisata PO Parahyangan B-7123-YK. Saat itu Jayadi penuh dengan luka parah terutama di bagian kepala. Dan sudah tidak bernyawa.
Bus yang dicarter keluarga besar Ranih untuk berwisata ke Tangkuban Perahu itu naas di Tanjakan Emen Subang Jabar pada Sabtu (26/9) sore sekitar jam 17.35. Saat hendak kembali di Jakarta, Bus mendapat masalah di Tanjakan Emen.
Ranih menceritakan, bus berukuran sedang tersebut ngoleng-ngoleng. Lepas kontrol dan terus meluncur tanpa bisa direm. "Ya Allah pir (sopir)... Semua sudah pada muji-muji," kata Ranih di rumahnya, RT 02 RW 03 Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, Minggu (27/9) sore.
Selanjutnya, ia menambahkan, bus meluncur deras. Setelah sempat menyenggol sedan Timor D 3219 TC, bus yang dikendarai Sutardi itu akhirnya meluncur bebas sekitar 400 meter dan terjungkal di sisi kiri jalan. Akibat kecelakaan ini 9 orang tewas dan 4 lainnya kritis.
"Pikiran sudah kacau sejak di atas tanjakan. Saya pasrah saja. Saya ikhlas dan serahkan pada yang Kuasa. Harus lapang dada menerimanya," papar Ranih.
Acara rekreasi pada pasca Lebaran merupakan kesempatan yang dimanfaatkan keluarga besar Ranih untuk mempererat tali persaudaraan. Ini adalah tradisi tiap tahun untuk mengadakan tour. "Keluarga dan besan dijadikan satu supaya tali persaudaraan nyambung. Dan tinggalnya pun di sini semua," tutur Ranih. TANGERANG, KOMPAS.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog