Kamis, 15 Oktober 2009

Catatan Sepakbola Bersepakbola di Internet


London - Sebuah revolusi kecil telah terjadi dalam dunia hiburan sepakbola. Bukan di sepakbolanya tetapi dalam penayangan pertandingan. Untuk pertama kali dalam sejarah sebuah laga sepakbola hanya bisa ditonton lewat internet di Inggris: Inggris vs Ukraina di kualifikasi Piala Dunia 2010.

Sebuah pertandingan yang tak terlalu penting untuk Inggris karena toh mereka sudah lolos. Namun tetap saja, menurut data resmi yang dikeluarkan pihak pemegang hak siar ini, sekitar 300 ribu pengakses bersedia membayar sekitar 5 hingga 12 Poundsterling untuk menonton pertandingan itu. Konon perusahaan pemegang hak siar itu mendapat pemasukan sekitar 3 juta poundsterling.

Perusahaan itu bukanlah perusahaan Inggris tetapi sebuah perusahaan hiburan Swiss, Kentaro. Setelah menang tender perusahaan itu menggandeng perusahaan digital Perform untuk menayangkannya via internet

Kesimpulan apa yang bisa diambil dari penayangan  via internet ini? Sebuah pertandingan yang tidak penting untuk pasar dimana pertandingan itu akan ditayangkan – bahkan BBC yang merupakan stasiun televisi layanan masyarakat hanya bersedia menawar 900 ribu Poundsterling untuk hak siarnya--, perusahaan asing yang memegang hak siarnya, serta eksklusif hanya ditayangkan lewat tekhnologi yang relatif belum semasal dan semapan televisi. 

Dulu sepakbola adalah sebuah hiburan yang hanya bisa ditonton dengan orang datang ke stadion. Tekhnologi bergerak, jaman berubah, dan orangpun terperangah: radio muncul dan orangpun bisa mengikuti pertandingan lewat laporan langsung via radio.

Ketika televisi muncul maka cara untuk mengikuti sebuah pertandingan sepakbola juga menjadi beragam.

Mereka yang berotak bisnis berpikir cerdik. Saat televisi sudah menjadi jamak di ruang tamu semua lapisan masyarakat, serta sepakbola masuk dalam alam bawah sadar masyarakat sebagai sebuah kebutuhan hiburan massal, maka dipikirkanlah cara untuk mengeksploitasi hal ini habis-habisan.

Pertanding-pertandingan sepakbola yang sebelumnya gratis tertayang televisi dibuat eksklusif. Hanya mereka yang mau membayar dan berlangganan siaran sepakbola bisa menonton. Mereka yang menolak untuk berlangganan masihlah boleh menonton sepakbola ini tetapi tidak lengkap, sepotong-potong dan ulangan.

Disini kita sadar atau setidaknya para pengelola sepakbola sadar bahwa sepakbola telah dan bisa masuk menjadi sebuah industri hiburan. Nilai-nilai korporat dan kapitalistik pelan tapi pasti menjadi nyawa sepakbola. Menggantikan nilai-nilai ideal yang konon pernah menjadi cikal bakal mengapa pertandingan sepakbola diadakan: seperti misalnya membangun karakter kejiwaan untuk menjadi pribadi yang bertanggungjawab, mempunyai solidaritas sosial, dan teguh dalam bersikap.

Apalagi ketika tayangan sepakbola tidak lagi sekadar berbatas negara. Kalau pertandingan sepakbola dimaknai sebagai sebuah produk untuk dan memang bisa dijual secara masal dengan imbalan uang, tidakkah kita sudah berbicara tentang sepakbola sebagai produk industri. Apa bedanya sepakbola dengan mobil, pakaian, maupun benda-benda material lainnya.

Mengambil contoh sepakbola Inggris ditingkat klub, tidakkah tayangan sepakbola Inggris ini menjadi salah satu tayangan hiburan paling digemari di seluruh dunia? Bukankah berbagai belahan dunia berlomba-lomba menyiarkan pertandingan-pertandingan sepakbola Inggris dengan imbalan uang? Tidakkah sepakbola ini tak lebih sebuah produk ekspor yang menguntungkan? Berapa banyak orang di Inggris ini dihidupi oleh industri yang bernama sepakbola maupun segala sesuatu yang terkait dengannya?

Yang lebih menguntungkan lagi, berbeda dengan industri lain, sepakbola tidak perlu mengolah sumber alam ataupun semacamnya untuk menghasilkan produk. Tidak ada ancaman akan kehabisan sumber produksi. Yang perlu dipikirkan hanyalah agar mereka tidak mengabaikan perkembangan tekhnologi terbaru agar selalu bisa menjual produknya menggunakan tekhnologi mutakhir. Mengeruk keuntungan memanfaatkan tekhnologi terbaru.

Dalam konteks ini penayangan sepakbola via internet menjadi penting. Apalagi selama ini streaming siaran sepakbola via internet sudah jamak terjadi walau haram karena sekadar pembajakan dari siaran via televisi.

Untuk kasus penayangan pertandingan Inggris melawan Ukraina sendiri bisa dibayangkan kalau penggemar sepakbola Inggris menentangnya. Sudah salurannya terbatas, membayar pula.

Ini reaksi yang persis sama ketika liga utama Inggris atau Premier League lahir lalu saluran televisi tertentu di Inggris memonopoli hak siarnya dan hanya memperbolehkan mereka yang berlangganan untuk menontonnya. Namun belakangan saluran televisi tersebut terbukti mampu mengemas dan memasarkan siaran sepakbola Inggris menjadi yang terlaris di seluruh dunia. Ekspor industri sepakbola Inggris menjadi kecemburuan negara-negara lain.

Siapa yang berani bertaruh bahwa penyiaran lewat internet ini dimasa depan tidak akan sesukses saudara telivisinya? 

*) Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di London.
( lza / din )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog