Rabu, 21 Oktober 2009

IT Disaster Recovery, Perlu tidak Hanya Saat Gempa dan Banjir

JAKARTA, KOMPAS.com – Disaster recovery (DR- pemulihan dari bencana) makin menjadi penting saat ini. Dulu, rencana DR hanya perlu dilakukan ketika ada bencana alam banjir dan gempa. Namun kini DR bisa terjadi kapan saja.
“Ini karena adanya kegagalan software dan hardware, serangan virus, hacker, maupun kegagalan catudaya listrik,” kata Raymond Goh (Technical Director Sales Engineering & Customary Advisory Services, Asia South Region, Symantec Asia Pacific Pte Ltd) saat membeberkan hasil riset Symantec tentang DR di Jakarta.
Ada empat temuan penting dalam riset tahun kelima yang dilakukan Symantec (Juni 2009) terhadap 1650 perusahaan di seluruh dunia, yang 450 di antaranya berada di kawasan Asia Pasifik dan Jepang. Perusahaan-perusahaan tersebut terlibat dengan manajemen DR dan memiliki karyawan minimal 5000 orang di seluruh dunia.
Inilah temuan pertama Symantec, yakni biaya downtime menjadi penting karena TI (teknologi informasi) sudah dianggap sebagai kontributor bisnis dan kebutuhan TI di bisnis meningkat. “Biaya per downtime sekitar US$ 150 ribu, dan bisa mencapai US$ 250 ribu di kawasan Asia Pasifik & Jepang. Rata-rata perusahaan bisa pulih dalam tiga jam (ketika terjadi bencana), tetapi perlu 5 jam untuk sepenuhnya pulih. Karena itu harus ada rencana DR yang bisa dieksekusi,” ungkap Raymond.
Ia menyarankan agar dilakukan uji DR 2x setahun. “Umumnya satu kali sudah bagus, tetapi direkomendasikan dua kali setahun karena perubahan yang terjadi di software seperti patch dan lain-lain biasanya ada per kuartal yang mengakibatkan peluang DR menjadi lebih rendah,” kata Raymond.
Namun ia juga mengingatkan, sebaiknya tidak membiarkan uji DR menyebabkan downtime yang besar. “Carilah cara yang tidak mengganggu operasional perusahaan,” saran Raymond. Ia menyarankan agar uji DR dilakukan secara otomat sehingga tidak mengganggu aktivitas perusahaan.
Untungnya, begitu temuan kedua Symantec, keterlibatan CTO (chief technology officer) dan CIO (chief information officer) dalam komite DR sudah semakin besar. “Peran CTO dan CIO makin besar. Tahun 2008, 23% yang terlibat di komite DR, tapi kini jumlahnya meningkat menjadi 67%,” ungkap Raymond.
Keterlibatan CTO dan CIO penting karena uji DR semakin mempengaruhi customer dan pendapatan perusahaan, begitu temuan ketiga Symantec. “Sebab 1 dari 4 uji DR gagal. Sejumlah 31% perusahaan mengklaim pengujian itu mempengaruhi pemasukan perusahaan, dan 42% mengatakan mempengaruhi customer,” jelas Raymond. Kendati demikian, tahun ini semakin banyak perusahaan yang menguji rencana DR-nya.
Temuan keempat, anggaran DR diperkirakan akan datar di tahun 2010, kendati 39% perusahaan yakin anggaran itu akan meningkat dan 55% lagi mengatakan jumlahnya akan sama dengan tahun sebelumnya.
Temuan kelima, virtualisasi telah menyebabkan perusahaan harus mengevaluasi ulang rencana DR-nya. Ini akibat semakin banyaknya aplikasi, server dan database yang dimasukkan dalam lingkungan virtual. Faktanya, 1 dari 4 perusahaan tidak melakukan uji virtual server dan 38% tidak melakukan backup lingkungan virtualnya.
“SDM-nya kurang dan tidak cukup waktu untuk belajar teknologi yang mendukung. Belum ada tool dan best practices-nya sehingga tidak ada yang bertanggung jawab di sini. Cara backup-nya beda dengan yang fisikal,” tutur Raymond. Ia menekankan perlunya melibatkan staf yang bertanggung jawab atas virtualisasi dalam rencana DR, khususnya selama tahap uji dan backup.
Sayangnya, kata Raymond, tidak ada solusi DR yang cocok untuk semua kasus perencanaan DR saat ini. Dan tantangan terbesar adalah DR di lingkungan virtual.
WIEK

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog