Kamis, 15 Oktober 2009

Serbuan Baju Bekas Impor Semakin Mencemaskan


YOGYAKARTA, KOMPAS.com — Serbuan baju bekas impor semakin mencemaskan pertekstilan lokal karena akan semakin banyak toko yang menjual. Pemerintah daerah semestinya bisa menekan laju baju bekas impor dengan menerapkan peraturan, tetapi tidak pernah dilakukan.
Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Perstekstilan Indonesia (API) Yogyakarta Jadin C Jamaluddin. Mengacu pada data nasional tahun 2007, kebutuhan tekstil masyarakat adalah 1,2 juta ton. Sebanyak 861.000 ton di antaranya masih mengimpor. Kebutuhan DIY adalah satu persen dari total angka nasional.
"Dari 861.000 ton tersebut, 22 persen di antaranya (atau 189.420 ton) disuplai oleh produk-produk impor ilegal yang kebanyakan dari China. Data terbaru saya memang belum mendapat, namun saya yakin lebih banyak dari data tahun 2006," ujarnya, Rabu (14/10).
Jadin berharap pemerintah daerah segera bertindak agar peredaran baju impor bekas bisa teredam. Pengusaha tekstil lokal tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan harga produk impor yang murah-meriah itu, barang impor tentu digemari bagi masyarakat.
"Saya mengamati, di kota, di kampung, banyak yang memakai kemeja, celana panjang, kaus, hingga jaket produk impor. Hal ini sangat mencemaskan. Di era otonomi, mestinya pemerintah daerah bisa mengeluarkan aturan dan menindak tegas toko-toko yang menjual baju bekas impor. Ini agar industri tekstil lokal hidup," kata Jadin.
Rizal, pemilik Toko Fajar Baru di Jalan Sultan Agung Yogyakarta, mengatakan, awalnya bisnis berjualan baju bekas impor memang menjanjikan. Namun, pemain baru bermunculan. Jika tahun lalu hanya ada 20 toko di Kota Yogyakarta, tahun ini sudah 25 toko.
"Persaingan tambah tajam. Jika tahun lalu dalam sehari saya masih bisa mendapat omzet Rp 500.000, maka sekarang hanya Rp 300.000. Besar kemungkinan toko sejenis akan semakin bermunculan," ujar Rizal.
Menjalankan bisnis baju bekas impor, menurut Vivi, pemilik Toko Sandang Murah, gampang-gampang susah. Ia membuka toko sudah delapan tahun. Sekarang, Toko Sandang Murah memiliki sembilan gerai di Kota Yogyakarta, empat di antaranya di daerah Ngasem.
"Namanya barang bekas, ya tergantung apa yang bisa didapat distributor. Saya enggak bisa memilih dan menentukan berapa yang kami perlukan. Jika stok datang, minimal 10 persen rusak seperti berlubang dan robek sehingga tidak bisa saya jual," paparnya.
Hari (23), mahasiswa perguruan tinggi swasta, mengaku cukup sering membeli baju bekas impor. Harganya jauh lebih murah ketimbang baju buatan lokal. "Kualitasnya juga lebih bagus. Hanya saja perlu banyak telaten memilih," katanya. Ia memiliki sekitar 10 baju dan satu jaket produk impor.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog