Kamis, 15 Oktober 2009

Terlalu Murah Hati Bisa Jadi Pertanda Penyakit


Washington, Seorang dokter di Amerika memiliki pasien yang hobi memberi mobil baru pada setiap orang yang datang ke dealer mobilnya. Tindakan murah hati yang dilakukan orang itu ternyata bukan sekedar murah hati, tapi sudah jadi penyakit bipolar maniak.

Kenneth Robbins, MD adalah psikiater yang memiliki pasien dengan penyakit bipolar maniak tersebut. Menurutnya, sang pasien adalah seorang pemilik dealer mobil yang cukup sukses. Uniknya, setiap kali ia panik, ia memberikan mobil pada siapa saja yang berada di dealernya.

"Pasien yang saya tangani saat ini sangat murah hati. Ia punya dealer mobil dan setiap kali panik, ia memberikan mobil-mobilnya pada orang-orang yang ada di dealernya atau memberi uang, cek, bahkan ketika ia tidak memiliki uang lagi," ujar Kenneth Robbins, MD dari University of Wisconsin-Madison seperti dikutip dari Health, Kamis (15/10/2009).

Robbins mengatakan bahwa gejala yang dialami pasiennya sudah termasuk ke dalam penyakit bipolar maniak. "Ia terlalu murah hati untuk kategori manusia normal, tidak bisa berpikir logis, merasa terobsesi dan emosinya tidak stabil. Orang dengan penyakit ini juga merasa tidak perlu tidur dan selalu berenergi," jelas Robbins.

Penyakit yang sering disebut depresi maniak ini menimpa hampir 6 juta orang dewasa di Amerika, atau sekitar 2,5 persen populasi dewasa. Kebanyakan penderitanya berawal dari depresi kecil.

Menurut Robbins, seseorang yang dikategorikan sebagai bipolar maniak memiliki gejala-gejala diantaranya :


  1. Peningkatan energi dan aktivitas mental
  2. Terlalu percaya diri dan cenderung melebih-lebihkan diri
  3. Perilaku agresif dan meledak-ledak
  4. Merasa sangat bahagia dan euforia berlebihan
  5. Bicara sangat cepat, tidak terkontrol dan sulit dimengerti
  6. Melakukan hal-hal yang berbahaya dan ekstrim
  7. Bertindak sembrono, ceroboh, ugal-ugalan
  8. Sering berhalusinasi
  9. Tidak merasa perlu tidur

"Orang yang terkena penyakit ini bagaikan memiliki empat wajah. Terkadang mereka bersemangat, tapi beberapa saat kemudian mereka sedih, panik, ketakutan dan sebagainya. Tipe penyakit ini berbeda-beda, tergantung durasi dan intensitas depresinya. Orang-orang seperti ini membutuhkan obat penstabil mood," ujar Robbins.Nurul Ulfah - detikHealth

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog