Kamis, 01 Oktober 2009

Tiba Sudah Giliran Padang...


Pertanyaan pertama yang terlontar di antara kawan-kawan adalah ”mengapa Padang?” Pertanyaan itu menggelitik pikiran sekaligus menohok kesadaran kita yang terdalam, ”apa yang akan terjadi selanjutnya? Kapan akan terjadi lagi?”

Gempa Padang—getarannya terasa nyaris sampai jarak 500 kilometer (Pulau Enggano, Kota Jambi)—terjadi tepat berselang empat minggu dari gempa Tasikmalaya yang terjadi Rabu (2/9). Kekuatan gempa Padang tercatat 7,6 skala Richter (SR), tergolong gempa kuat.

Gempa memang tak bisa ditetapkan prakiraannya secara tepat: kapan dan di mana akan terjadi (Jadi, jangan pernah percaya kepada informasi yang menyebutkan secara presisi tempat dan waktu gempa yang akan terjadi!).

Yang selama ini telah dapat dilakukan para ahli gempa adalah memperhitungkan potensi dan peluang terjadinya gempa di suatu kawasan.

Demikianlah, sejumlah ahli gempa telah berkali-kali berkumpul mendiskusikan hal itu, terutama untuk kawasan barat Sumatera, yang berada dalam sistem subduksi (penunjaman lempeng samudra ke lempeng benua) yang sama yang terletak di Palung Sumatera.

Daerah tersebut merupakan zona subduksi Lempeng Eurasia yang menunjam ke Lempeng Indo-Australia. Zona tersebut, menurut ahli geologi dari Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Danny Hilman, aktivitasnya tinggi. ”Kecepatannya berkisar 5-7 cm per tahun. Angka ini menunjukkan aktivitas yang tinggi,” tuturnya.

Sudah diprediksi

Kejadian gempa yang merobohkan ratusan rumah dan puluhan gedung bertingkat ini bukan sesuatu yang tidak diperkirakan.

”Gempa Padang sudah diprediksi, diantisipasi, terutama setelah gempa besar Bengkulu tahun 2007,” tutur guru besar dan ahli gempa dari ITB, Sri Widiyantoro, saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (30/9). Pada Rabu, 12 September 2007, terjadi gempa berkekuatan 7,9 SR yang mengguncang Bengkulu.

Prediksi tersebut berdasarkan hasil pengamatan sejak terjadi gempa 9,3 SR pada Desember 2004 yang membawa tsunami hebat di Aceh.

Kekuatan gempa Padang yang 7,6 SR tersebut di bawah prakiraan ahli gempa. ”Prediksinya lebih tinggi, bisa sampai 8,8 SR. Itu prakiraan energi yang masih tersimpan di zona yang belum pecah,” kata Sri Widiyantoro.

Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Mineral Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Yusuf Surachman menyebut, energi di Padang memang sudah matang.

Menurut Sri Widiyantoro, dengan pelepasan energi yang bertahap, tidak sekaligus besar melainkan sedikit demi sedikit dengan skala sekitar 7 SR, energi yang tersimpan akan berkurang secara bertahap. ”Akan tetapi, kami tidak bisa tahu apakah pelepasan energinya bertahap, sering-sering tapi tidak besar sekali, atau akan dikeluarkan sekaligus besar,” katanya menambahkan. Energi dari gempa 8,9 SR, katanya, dibandingkan dengan 7,9 SR adalah 30 kali lipat besarnya.

Meloncati Padang

Dari pengamatan sejak tahun 2004, berturut-turut menurut Sri Widiyantoro terjadi gempa kuat berskala di atas 7,0 SR, mulai dari Nias hingga Bengkulu (tahun 2007), terus berlanjut sampai ke gempa Tasikmalaya empat minggu lalu.

”Ketika itu, saat tahun 2007 terjadi gempa Bengkulu, kami melihat ada yang aneh, ’mengapa, kok, meloncat? Mengapa Padang dilewati?’” Fenomena itu memiliki arti bahwa segmen di daerah Padang belum ”pecah”, melepaskan energi.

Setelah gempa Padang kemarin, pertanyaan yang masih mengganjal benak kalangan ahli gempa adalah bagaimana dengan zona subduksi di kawasan Mentawai yang sampai sekarang belum juga pecah.

Jalur zona subduksi di sebelah barat Sumatera yang merupakan daerah pusat gempa menurut Yusuf Surachman panjangnya sekitar 1.200 kilometer membentang dari Andaman, Aceh, Sumatera Utara, Padang, terus ke selatan, Bengkulu, Lampung, sampai ke Selat Sunda dan selatan Jawa Barat.

Gempa Padang, yang berkekuatan 7,6 SR, menurut Sri Widiyantoro, panjang zona yang pecah baru sekitar 100 kilometer. ”Maka kita semua harus terus waspada, tapi tidak perlu panik,” ujarnya.

Danny menambahkan, kawasan Mentawai yang belum juga melepaskan energi, panjang jalurnya 300-400 kilometer, mulai dari Pulau Siberut, Pulau Sipora, sampai ke Pulau Bagai Utara dan Bagai Selatan. ”Pusatnya terutama di bawah wilayah Siberut,” kata Danny.

Dia mengakui, gempa Padang berpotensi memicu potensi gempa besar yang ada di jalur tersebut, tetapi, ”Yang kami tak tahu ialah apakah itu sudah cukup besar untuk membuat zona di Mentawai bergerak. Jangka waktunya kita pun tak tahu. Bisa beberapa bulan atau beberapa tahun. Kami tak bisa memastikan kapan dan berapa besar energi yang terpicu,” katanya.

Yang dapat dilakukan dan harus terus dilakukan, menurut ketiganya, adalah mempersiapkan masyarakat agar ketika bencana terjadi mereka siap. ”Masyarakat harus diajari agar mereka tahu ke mana jalur untuk menyelamatkan diri, misalnya terjadi tsunami,” ujar Sri.

Jadi, ketika Padang diguncang bencana, sebenarnya yang harus dibaca adalah ”ini merupakan peringatan agar kita semua terus waspada, dan kita semua, termasuk pemerintah, mengerjakan pekerjaan rumah kita: selalu waspada dan paham cara-cara penyelamatan diri”. (NAW/YUN/ISW) KOMPAS.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog