Rabu, 11 November 2009

KPK: Yuilianto Ternyata Memang Ada



KOMPAS.com- Sosok Yulianto yang disebut-sebut sebagai orang yang menyerahkan uang suap dari Anggodo Widjojo kepada para pimpinan KPK semakin nyata. Meski belum diketahui persis keberadaannya, informasi bahwa Yulianto memang benar-benar ada mulai muncul.
Setelah Ary Muladi membeberkan ciri-ciri Yulianto, di Surabaya Ketua Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) Jawa Timur R Henry Rusdijanto, SH, menyatakan mengenal pria itu.

Menurut dia, pada 1997 Yulianto pernah terlibat kasus penipuan tanah. "Ia dikenai hukuman selama satu tahun, namun mulai dari Polwiltabes hingga ke Pengadilan Negeri Surabaya tidak sempat dimasukkan ke penjara," katanya. 

Sosok Yulianto tersebut akhirnya muncul kembali pada 2005. Saat itu Yulianto sempat mengontak dirinya dan mengajaknya bergabung di kantornya untuk membentuk sebuah kantor biro jasa di sebuah daerah di Jakarta. Sayangnya, sejak itu Henry tak lagi bertemu Yulianto. Ia memperkirakan Yulianto pindah ke Jakarta.


Informasi itu disampaikan Henry setelah mendapatkan gambaran ciri-ciri Yulianto seperti disampaikan Ary Muladi. Yakni berbadan atletis dan bermata sipit, meskipun dia bukan Chinese.

Informasi terbaru datang dari Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Anti Korupsi Indonesia (Gaki). Ketua Gaki Ade RF Manurung seusai menyampaikan foto dan memberikan keterangan di Mabes Polri, Selasa (10/11).


Ketua Gaki Ade RF Manurung bahkan memberikan empat lembar foto Yulianto kepada polisi. "Kami sampaikan empat foto Yulianto kepada penyidik untuk ditindaklanjuti. Kami yakin 99 persen dia Yulianto, karena sama persis dengan ciri yang dikatakan Ary Muladi," katanya seusai menyerahkan foto ke Mabes Polri.

Ade mengaku bertemu beberapa kali dengan orang yang bernama Yulianto pada 2008. Saat itu, Yulianto datang ke kantor Gaki untuk melaporkan kasus korupsi agar ditindaklanjuti oleh Gaki. "Dulu dia sering ke kantor kami. Dia menyerahkan KTP atas nama Yulianto dan tinggal di Jati Bening (Bekasi)," kata dia.

Selama perkenalan, Ade menambahkan bahwa Yulianto pernah menceritakan pekerjaannya sebagai makelar kasus (markus). Kepadanya, Yulianto mengaku kenal dengan pejabat di kepolisian, kejaksaan, dan KPK. "Dia pernah katakan kenal dengan penegak hukum. Dia itu memang makelar kasus. Dia ajak saya untuk main kasus. Tapi saya enggak bisa seperti itu," kata dia.

"Dia bilang mau pensiun di Surabaya. Istri dan anaknya tinggal di Surabaya. Dia juga bilang, bapaknya mantan kapolda, tapi saya enggak tahu kapolda mana. Dulu memang dia sering ke kantor sayam tapi sekarang enggak pernah. Terakhir dia telepon bulan puasa 2009 bicarain soal tanah," kata dia.

Sayangnya, kepada wartawan ia enggan menyebut alamat Yulianto seperti yang tertulis di KTP-nya.
Meski begitu, polisi dengan berbagai kewenangan yang melekat padanya tentu bisa mendapatkan alamat terakhir Yulianto. Ini harus diyakini, karena memburu jaringan teroris yang punya banyak nama alias dan berubah-ubah penampilan saja polisi sukses.
Tidak berhasil? Serahkan pada Densus 88 saja! Atau jangan-jangan Polri memang harus membentuk Densus baru, Densus 09 Pemburu Koruptor seperti pernah diusulkan KH Mustafa Bisri... (M Suprihadi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails
Bookmark and Share

Arsip Blog